Pertemuan pertama kita

 

Selama aku mengenal kamu, dan kemudian aku berani mengutarakan isi hati aku, kita belum pernah bertemu sekalipun. Maksudnya, bertemu secara tatap muka langsung. Belum pernah saling bicara, belum pernah saling sapa satu sama lain, yang kita lakukan saat itu hanya saling melempar senyum ketika kita bertemu di sekolah.

Kamu mungkin mengira semua ini terlalu lebay. Namun, bagi aku ini bukan sebuah perlakuan yang berlebihan selama ini aku tidak punya keberanian untuk menceritakan tentang apapun kepada orang lain. Lagipula, aku hanya menjadikan semua catatan ini sebagai kenangan bahwa kita pernah bertemu.

Beberapa minggu telah berlalu, dan hubungan kita dalam keadaan baik-baik saja tanpa gangguan berarti. Muncul dalam benak ku bagaimana sikap kamu apabila aku ingin mengajak kamu bertemu langsung denganku. Sekali lagi, bahkan mungkin bukan hanya sekali tapi, beberapa kali. Aku kembali mengirimkan pesan singkat untukmu, yang berisikan ajakan bertemu untuk pertama kalinya.

Kamu sempat bertanya dan ragu, jika memang ada hal yang ingin aku sampaikan mengapa tidak langsung saja sekarang. Namun, aku lebih memilih untuk bertemu secara langsung. Aku ajak kamu bertemu di atas gedung sekolah. Namun, sayangnya hal itu tidak pernah terjadi.

Setelah kita bertemu di sekolah dan aku menunggu kamu di bawah tangga. Akhirnya kamu datang, namun bukan pertemuan untuk membahas suatu pembicaraan, yang ada kita gugup dan malu satu sama lain. Aku meminta kamu untuk menghampiri aku, dan kamu meminta hal yang sama.

Kamu masih berdiri di anak tangga pertama menuju kelas kamu, dan aku terduduk di depan kelas. Tidak ada diantara kita yang berani mendekat satu sama lain. Yang ada hanya kita saling meminta hal yang sama selama beberapa saat. Hingga akhirnya, muncul seseorang dari dalam ruangan guru. Hingga akhirnya, kamu lari sekencang yang kamu bisa. Sempat ingin marah, namun aku tahu sendiri dan paham, karena akupun merasakan malu itu.

Setelah itu, kamu tahu apa yang terjadi berikutnya? Guru itu menanyakan apa yang sedang aku lakukan. Aku bingung harus menjawab apa. Aku gugup, namun beliau meminta aku untuk mengejar kamu. Tapi, aku lebih memilih untuk pulang, karena aku rasa kalaupun aku mengejar kamu, kemungkinan besar kamu sudah jauh.

Masih teringat semua itu, aku hanya bisa mengenang kembali semua yang pernah terjadi diantara aku dan kamu beberapa tahun yang lalu.

Setelah pertemuan kita yang gagal itu, aku belum berani untuk mengajak kamu bertemu lagi. Takut, hal yang sama terjadi lagi. Betapa malunya aku jika, hal itu terjadi lagi.

Sesampai di rumah, seperti biasa aku selalu menanyakan hal yang sama. Mungkin, bagi sebagian orang hal-hal itu menjadi pertanyaan yang membosankan, tapi bagi orang yang sedang baru jatuh cinta, hal itu bisa menjadi penyemangat dan membuat seseorang bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanggung Jawab Seorang Laki-laki

Hari jum’at di tahun 2012